Skip to content
Mei 18, 2010 / rismaka

Sop Sirip Ikan Hiu yang Menyakitkan

siriphiu.jpg

Mendengar kata HIU, maka apakah yang terbayang di kepala? Keganasannya? Gigi-geliginya yang tajam? Kengerian? Wajar. Mengingat, bukankah seperti itu pencitraan salah kaprah yang dibangun oleh industri film Hollywood terhadap sosok hiu? LIhat saja film Shark. Film-film Hollywood selalu menggambarkan hiu sebagai makhluk ganas, pembunuh manusia nomor satu. Masak iya? Apa enggak kebalik? Faktanya, hiu justru mengalami nasib tragis oleh ulah manusia yang tak bertanggung jawab dan tak punya belas kasihan terhadap makhluk ciptaan Tuhan.

ikan hiu

Saya ingat kisah seorang teman. Teman ini divonis menderita kanker payudara stadium III. karena itu, si teman harus menjalani kemoterapi. Tetapi, di sisi lain, dia juga menjalani pengobatan alternatif. Nah, saat menjalani pengobatan alternatif itulah, salah satu sahabatnya memberinya obat yang berbentuk bubuk. Si temannya teman ini (mudah-mudahan tidak bingung dengan istilah ini) memberitahukan bahwa bubuk tersebut merupakan sirip ikan hiu yang dikeringkan dan ditumbuk halus. Katanya, bubuk itu sangat manjur untuk menghilangkan sel-sel kanker. Nah, entah karena kemoterapi atau si teman tersugesti oleh ucapan temannya tentang kemanjuran bubuk sirip ikan itu, akhirnya dia dinyatakan sembuh. Sel-sel kanker yang sudah menyebar ke seluruh tubuhnya sudah habis dan dipastikan tidak akan tumbuh lagi. Dengan suka cita dia menceritakan hal ini kepada saya. “Wah, saya sembuh berkat sirip ikan hiu ini!”

Tapi saya cuma menanggapi, “Oooh gitu ya? Selamat ya.”

Lain waktu, saya membaca di sebuah majalah tentang kelezatan sop sirip ikan hiu. Harganya memang mahal. Tapi, harga sebanding dengan kelezatannya. Demikian tulis si reporter di majalah tersebut. Lagi-lagi saya cuma mengernyit.

Tapi, tahukah para penikmat sirip hiu itu tentang bagaimana cara pengambilan sirip hiu? Jika Anda berpikir sirip itu diambil dari hiu yang diternakkan, maka pikiran itu sangat salah. Salah satu saluran tivi kabel (BBC Knowledge) pernah menayangkan tayangan investigatif. Sebagai pembuka, tayangan itu memperlihatkan bagaimana orang-orang bersuka cita menikmati kelezatan sop sirip ikan hiu dan aneka olahan dari sirip ikan hiu (termasuk obat seperti yang diminum si teman yang divonis kanker payudara itu). Lalu, dalam tayangan berikutnya, diuraikan bagaimana cara memperoleh sirip ikan hiu itu. Cara yang dipakai benar-benar tidak berperikebinatangan. Para nelayan mempergunakan perahu jenis pukat menangkap hiu hidup-hidup dari laut, mengiris siripnya dan mengembalikan si hiu malang yang masih hidup (tapi kehilangan siripnya itu) ke laut! Anda bisa bayangkan apa jadinya ikan tanpa sirip saat dicemplungkan ke air? Ya betul. Ikan-ikan malang itu tenggelam ke dasar laut sebelum akhirnya mati mengenaskan.

sirip hiu

sirip hiu2

Bukan hanya satu dua ikan yang ditangkapi dan diiris siripnya. Melainkan, ada puluhan ikan hiu yang mengalami nasib tragis seperti itu. Saya hanya bisa mengelus dada: Dosa apakah hiu-hiu malang ini, sehingga mereka berhak menerima hukuman amputasi seperti itu? (di negara-negara yang menerapkan hukum Islam, ada hukuman pemotongan tangan bagi si pencuri. Lha, mosok hiu ini juga mendapat hukuman seperti para pencuri itu?)

Tidak adil rasanya jika kita bersenang-senang di atas penderitaan makhluk lain. Terlebih, hiu ini juga makhluk ciptaan Allah. Hiu juga punya hak untuk hidup, hiu punya nyawa dan punya saraf sakit… sama seperti manusia. Jadi, jika dia dipotong siripnya, dia pun akan merasakan kesakitan seperti manusia. Bayangkan saja itu Anda. Anda secara kejam ditangkap, dipotong kedua kaki Anda dan dilemparkan kembali ke jalanan. Bagaimana perasaan Anda? Sedih, kesakitan luar biasa, bertanya-tanya kepada Allah (apa salah saya kenapa saya menerima hukuman sekejam ini), sebelum akhirnya mati kehabisan darah (dengan asumsi jika tak ada manusia lain lewat di tempat itu dan menolong anda ke rumah sakit). Lha… berarti masih untung manusia ya. Jika Anda mengalami nasib seperti hiu itu, masih ada yang mau menolong membawa ke rumah sakit dan Anda segera mendapatkan pertolongan. Lha kalo hiu? Apakah sesama hiu yang masih utuh siripnya akan menolong si hiu malang yang telah kehilangan siripnya itu, membawanya ke rumah sakit dan syukur-syukur dapat sirip baru? Tidak mungkin.

Kalau saya nulis seperti ini, biasanya ada yang ngeles: lho bukankah alam beserta isinya diciptakan Tuhan untuk manusia. Ya, itu betul. Tapi sebagai penguasa jagat (trims pada aldy -melalui komentarnya- untuk koreksinya) makhluk paling berkuasa di dunia, pantaskah kita bersikap se-dzalim itu kepada sesama makhluk Tuhan? Tidak bisakah kita lebih arif dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan alam beserta isinya ini? Terlebih mengingat mereka adalah makhluk bernyawa yang pasti punya rasa sakit saat meregang nyawa (sama seperti manusia to?).

Salah kaprah lainnya adalah hiu dianggap makhluk ganas, pembunuh manusia. Sebetulnya, itu hanyalah pencitraan yang digambarkan Hollywood. Sebab, jika kita telusuri secara ilmiah, hiu tidak mungkin memangsa manusia (menjadikan manusia sebagai makanannya). Manusia merupakan makhluk tertinggi dalam urutan piramida makanan. Jadi, jelas, manusialah yang memangsa hiu (bukan sebaliknya). Hiu tidak akan menyerang manusia selama dia tidak merasa terancam.

Jadi, bagaimana agar hiu tidak punah? Kalau ingin arif dan bijaksana, ya ternakkan saja hiu-hiu untuk keperluan konsumsi dan pengobatan. Sebab, jika kita menangkap hidup-hidup dari alam, bisa mengganggu keseimbangan alam. Ingat, jika kita membunuh satu ekor satwa liar, maka itu berarti kita telah membunuh minimal 2 ekor satwa (bayangkan jika yang kita bunuh itu seekor induk dengan minimal satu anak. Induk terbunuh, otomatis anak pun akan ikut mati karena tidak ada yang kasih makan si anak. Nah, bayangkan jika ada ribuan induk dibunuh, berarti ada ribuan anak ikut mati sia-sia! Mengerikan bukan efek dominonya?). Kalau saya pribadi lebih suka mengonsumsi hewan yang memang sengaja diternakkan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani. Saya tidak mengonsumsi satwa-satwa yang ditangkap dari laut lepas, dicemplungkan ke panci-panci berisi air mendidih atau digoreng di minyak panas. Karena menurut saya, toh Allah sudah menciptakan sapi dan ayam untuk memenuhi kebutuhan protein hewani manusia. Sapi dan ayam sudah diternakkan. Jadi, buat apa saya makan yang aneh-aneh?

Selain itu, Islam menganjurkan, jika kita ingin menyembelih hewan, usahakan hewan tersebut tidak mengalami kesakitan saat proses kematiannya (karena itu, gunakan pisau tajam agar satwa yang disembelih tidak merasakan kesakitan). Proses kematian hiu seperti di tayangan BBC itu jelas bertentangan dengan ajaran Islam.

Dengan demikian, kita dapat memenuhi kebutuhan protein hewani tanpa menyakiti makhluk lain. Sudah sepatutnya kita menjadi lebih bijak, arif dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan alam beserta seisinya. Dengan sikap bijak seperti itu, mudah-mudahan hiu tidak cepat punah oleh ulah manusia. Amin

–o0o–

Tulisan di atas merupakan opini seorang penulis kompasiana, Astridewi, yang pernah dipublikasikan di green.kompasiana.com. Sila merujuk pada sumber aslinya.

  1. rose / Mei 18 2010 9:43 am

    aq pernah makan ikan hiu, krn penasaran ajah ma dia yang lagi mejeng di stand penjualan ikan, secara penasaran dengan sop sirip ikan hiu…
    hmm rasanya sih biasa saja… masih mending ikan yang lainnya ajah… tapi kalau ikan hiu yang udah dewasa sesekali ditangkapi gapapa yaa… enak dagingnya n tulangnya bisa dibikin mangut… makanan khas semarang.. beneran enak tenaan… ^^

  2. Aldy / Jun 14 2010 6:36 pm

    ………… Tapi sebagai penguasa jagat, pantaskah kita bersikap se-dzalim itu kepada sesama makhluk Tuhan? >>>> Maaf mas manusia itu bukan penguasa jagat, melainkan Alloh lah penguasa jagat atau alam semesta, bagaimana mungkin manusia memposisikan dirinya sebagai penguasa jagat (alam semesta).

    ………… Saya tidak mengonsumsi satwa-satwa yang ditangkap dari laut lepas, dicemplungkan ke panci-panci berisi air mendidih atau digoreng di minyak panas. >>>>>>> saya rasa tidak masalah mas jika kita mengkonsumsi ikan-ikan selain ikan hiu, seperti ikan Tuna, ikan sardin, ikan makarel, ikan tongkol atau yang lainnya yang notabene mereka berasal dari laut lepas dan tidak diternakkan.

    Piss….. Hanya ingin bertukar pikiran, semoga bisa saling mencerahkan.🙂

    • rismaka / Jun 14 2010 6:59 pm

      Jazakallah khoir pak atas koreksinya. Artikel di atas saya ambil dari salah satu penulis di kompasiana.com. Saya mungkin lalai dalam mengoreksi kata/kalimat yang kurang tepat di dalamnya. Sudah saya edit kok.

      BTW sekali lagi terima kasih atas koreksi dan masukannya🙂

  3. Afif Zakariya / Nov 18 2010 7:09 pm

    Terima kasih, artikel yang sangat oks. Shark’s my favorite.😀

    Wah memang, Holywood senang memutarbalikkan fakta, Seperti penggambaran ikan piranha pula. Entah apa yang mereka inginkan sebenarnya.

    Hiu menyerang jika ia mencium darah, walaupun setetespun dari jarak ratusan meter sekalipun.

    Dan saya setuju, hiu tidak menyerang jika kita tidak mengganggu. Hiu adalah bagian dari alam. Alam tidak akan marah kepada manusia, jika manusia dapat bersahabat dengan alam.

  4. afifzakariya / Nov 18 2010 7:31 pm

    Terima kasih, artikel yang sangat oke. Shark’s my favorite.😀

    Wah memang, Holywood senang memutarbalikkan fakta, Seperti penggambaran ikan piranha pula. Entah apa yang mereka inginkan sebenarnya.

    Hiu menyerang jika ia mencium darah, walaupun setetespun dari jarak ratusan meter sekalipun.

    Dan saya setuju, hiu tidak menyerang jika kita tidak mengganggu. Hiu adalah bagian dari alam. Alam tidak akan marah kepada manusia, jika manusia dapat bersahabat dengan alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: